Kagama care
Tulisan bagus dari Kagama Geologi
Pentingnya memperkenalkan "IGA- Income Generation Activity" kpd anak (cucu) sejak dini
Oleh: Soejanto Poedjosoedarto.
Dulu ketika saya msh kanak-kanak, kondisi
ekonomi orangtua memang sangat pas-pasan. Penghasilan bpk sebagai polisi berpangkat rendah tidak akan cukup untuk membiayai sekolah anak2 hingga Universitas. Beruntung saya menpunyai "empowered mom, seorang ibu berdaya. Ibu sbg wanita ibu rumah tangga sangat trampil dan pandai menciptakan income tambahan untuk menopang kehidupan keluarga.
Ibu sbg wanita ibu rumah tangga sangat piawai dalam menciptakan IGA (Income Generation Activities). Ini sbg hasil pendidikan ortunya di masa kecilnya.
Dari membuat tempe utk dijual. Membuat camilan gorengan dititpkan ke warung2 hingga menanam sayuran utk dijual ke pasar. Semua dijalankan oleh ibu dengan tekun dan "tanpa malu".
Saya salah satu anak yg paling sering diajak terlibat dalam IGA yg diciptakan Ibu. Keterlibatan dan pembiasaan saya dalam IGA itu menjadikan saya menyukai IGA dan itu membuat hidup saya sejak berkeluarga hingga saat ini tidak pernah mengalami kesulitan (scr finansial). Alhamdulillah.
Selama 35 tahun karir sy sbg pencari nafkah utk kelg, hanya 23 tahun sy pergunakan untuk bekerja sbg karyawan (bekerja pd orang lain/ perusahaan). Sisanya12 tahun, sy bekerja utk diri sendiri (self employed). Mendirikan usaha sendiri dan menggaji diri sendiri dan orang lain. dan hasilnya cukup lumaya. Dengan hasil yang baik itu sehingga pd usia 60 tahun saya berani untuk memutuskan untuk pensiun dari mencari nafkah secara total, dan menasuki Kehidupan masa pensiun dg mantab.
Sy sangat meyakini " keberanian" sy berubah kuadran dari menjadi "employee" menjadi "self employed" itu krn adanya "pengalaman dan pembelajaran" IGA di masa kecil diberikan orang tua. Saya banyak punya pengalaman menjalankan IGA, meskipun kelasnya kecil2an atau ecek-ecek.
Ketika sy nemulai membangun Keluarga bersama istri, Alhamdulillah, ekonomi keluarga tidaklah berkekurangan. Namun berdasarkan pengalaman masa kecil ttg pendidikan IGA dlm rumah tangga oleh ibu yg saya alami, sy dan istri merasa penting untuk mengajari dan memberikan pendidikan ketrampilan IGA kepada anak-anak saya.
Berbagai IGA yg sederhana banyak diciptakan oleh istri saya untuk diajarkan kpd anak-anak. Tentu aktifitas IGA yg dijalankan dipilh yang menyenangkan, dijalankan secara santai sbg aktifitas sampingan. Anak-anak harus tetap sekolah.
Anak saya yg no.2 punya record IGA yg membanggakannya. Pada waktu SD, sejak kelas 2 hingga lulus, setiap harinya selalu membawa dan jualan nasi kuning untuk tenan2nya di kantin sekolahnya. Rata-rata 100 bungkus/ hari nasi kuning habis terjual. Aktifitas IGA anak saya yg kebetulan bintang sekolah ini sangat di support oleh kepala sekolah dan gurunya.
Apakah aktifitas IGA itu mengganggu sekolahnya ? Jawabnya: Tidak.
Dr. Ariana, anak saya no.2 itu, sejak SD selalu juara kelas. Pada waktu duduk di SMP dan SMA, dia selalu berada di kelas akselarasi. Ketika sumpah dokter di UGM, dia baru berusia hampir 21 tahun.
Yang ingin saya sampaikan disini bahwa IGA yg kami ciptakan sbg pendidikan ketrampilan hidup dalam keluarga dan dilakukan oleh ortu itu tidak harus mengganggu sekolahnya.
Banyak macam IGA yg menyenangkan yang kami ciptakan bersama anak-anak, yg membuat anak-anak menjadi menyukai IGA. Anak2 menjadi tidak malu menjalankan IGA dan mereka menjadi terbiasa menjalankan IGA. Ketrampilan anak2 dengan IGA membuat mereka berani dan pede untuk menciptakan usaha. Anak-anak menjadi pandai mengelola uang. Mereka menjadi sangat paham tentang apa yg namanya kebutuhan dan keinginan.
Dalam hal bisnis, anak2 menjadi kreatif.. Anak2 menjadi aktif berfikir mencari peluang usaha...
Mungkin inilah sebenarnya yang dibamakan model pendidikan entrepreneurship sejak dini itu
Ketiga anak2 saya sejak kecil sudah terbiasa mempunyai usaha bersama. Mereka sejak kecil selalu membuat proyek2 IGA bersama.
Kini, setekah mereka hidup mandiri dan berkeluarga, dg motor Anak no.2 (30 thn) mereka bejerjasama membangun usaha bersama.
Dengan background profesi dokter dengan S2 bidang biomed-Antiaging, sejak 5 tahun yl mereka bertiga membangun dan mengelola 14 bh beauty clinics di Jakarta dan berbagai kota. Usaha ini skrg mempekerjakan dg lebih seratus karyawati (dokter, theraphists, admin, dll).
Anak-anak sy ternasuk educated children but orientasinya bukan mencari kerja lagi. Mereka enjoy menciptakan income bagi keluarga, namun juga menciptakan income bagi banyak orang. Menciptakan dan membuka lapangan kerja !
Hari ini, adalah peristiwa penting untuk cucu saya yg pertama (Akesh), yang baru berusia 7 tahun. Generasi kedua saya.
Dengan semangat yang tinggi dia menerima tawaran ortu dan kakeknya untuk mengenal IGA. Hari ini kami, ortu dan kakeknya mengenalkan IGA kepadanya untuk yang pertama kalinya.
Akesh dengan sangat antusias hari ini, di even woodworking festival belajar menjalankan IGA. Berjualan sosis bakar ala Australia. Mebawarkannya dari stand ke stand.
Dengan semangat yang diberikan oleh pengunjung festival, Akesh kecapekan melayani pelanggan. Namun dia sangat menikmatinya.
Mudah2an hari ini merupakan pengalaman menciptakan IGA pertama yang mengesankan baginya. Mudah2an peristiwa ini akan memotivasi untuk menyukai IGA dan menjadikan dia trampil dalam IGA... Menjadi bagian generasi millennial yang menciptakan lapangan kerja not generasi pencari kerja seperti generasi kakeknya. Aminnn..
The proud grand parent.
Pasar Minggu, 27 Oct 2018.
Komentar
Posting Komentar